Dari Timur untuk Negeri: Catatan Petualangan Jurnalis Sorong di Media Gathering LPS Sulampua di Makassar

ISTORI NEWS : Foto bersama usai malam apresiasi Sailing Experience di kawasan Losari CPI Lae-Lae di KLM Malayeka, kapal pinisi yang menjadi ikon bahari Sulawesi Selatan.
Momentum Kebersamaan LPS dan Insan Pers Sulampua dalam Membangun Literasi Keuangan untuk Penguatan Peran LPS di Wilayah Timur Indonesia”.

ISTORINEWS.COM, Makassar– Perjalanan panjang dari ujung timur Indonesia menjadi pembuka cerita dalam kegiatan Media Gathering Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua) bertajuk “Cerita dari Tanah Timur: Episode Makassar, dari Phinisi untuk Negeri” yang digelar pada Jumat (14/11/2025).

Tiga jurnalis dari Sorong Papua Barat Daya, Willem Oscar Makatita (Istorinews.com), Dirsan Matdoan (Melanesiatimes.com), dan Suzan Leiwakabessy (Koreri.com) menjadi rombongan terakhir yang tiba di Kota Makassar, bergabung bersama para jurnalis dari Manado, Palu dan Kendari.

Perjalanan dimulai dengan drama kecil di Bandara DEO Sorong ketika pesawat yang dijadwalkan berangkat Jumat (14/11/2025) pukul 14.55 WIT mengalami delay selama satu jam.

Meski sedikit terhambat, semangat untuk mengikuti kegiatan tahunan yang mempertemukan jurnalis se-Sulampua tetap membara. Apalagi, rekan-rekan media dari Manado, Palu, dan Kendari telah tiba lebih dulu di Makassar.

ISTORI NEWS : Tiga jurnalis media ghatring LPS Sulampua dari Sorong Papua Barat Daya.

Dikejar Waktu Sesampainya di Makassar
Setibanya di Bandara Sultan Hasanuddin, waktu seolah berlari cepat. Setelah registrasi di sebuah hotel di kawasan Pantai Losari, ketiganya langsung menuju lokasi kegiatan di Kantor LPS Perwakilan Wilayah III Indonesia Timur yang berada di lantai 17 gedung Graha Pena Makassar.

Belum sempat menghela napas panjang, agenda pertama telah menunggu. Sambil bersalaman dengan para pimpinan LPS serta jurnalis dari berbagai daerah, suasana perkenalan pun terasa hangat dan penuh kekeluargaan.

Memasuki malam, rangkaian kegiatan resmi dimulai. Workshop dibuka oleh Kepala Kantor Perwakilan (KPW) III LPS, Fuad Zaen, yang menekankan pentingnya sinergi antara LPS dan insan pers di wilayah timur Indonesia.

Menurutnya, jangkauan informasi yang disebarkan media dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dibandingkan sosialisasi konvensional.

ISTORI NEWS : Workshop media ghatring LPS Sulampua 2025 bersama Kepala Kantor Perwakilan (KPW) III LPS, Fuad Zaen dan Prayitno Amigoro, Deputi Kepala Kantor LPS III Makassar.

“Media melalui cakupan, jangkauan, dan penyebarannya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat daripada yang dapat kami jangkau secara fisik. Oleh karena itu, rekan-rekan media menjadi mitra strategis LPS dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya di wilayah Sulampua,” ujar Fuad Zaen.

Fuad menambahkan, melalui kegiatan media gathering ini, LPS berharap kolaborasi dan hubungan kerja sama dengan insan pers semakin erat guna menjawab tantangan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Materi pertama dibawakan oleh Widyawan Setiadi, wartawan muda berbakat dari Harian Umum Fajar Makassar. Widyawan mengulas dinamika jurnalisme modern dan tantangan media di era digital.

Setelahnya, Prayitno Amigoro, Deputi Kepala Kantor LPS III Makassar, melanjutkan sesi dengan pemaparan mendalam mengenai peran LPS serta strategi komunikasi publik lembaga tersebut.

“Simpanan nasabah di bank yang memenuhi syarat 3T tercatat, tidak melebihi tingkat bunga penjaminan, dan tidak menyebabkan bank gagal secara otomatis dijamin oleh LPS. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir terkait keamanan simpanan mereka,” jelas Pray sapaan akrab Prayitno.

ISTORI NEWS : Keseruan tim media ghatring LPS 2025 saat menuju destinasi wisata geopark Ramang-Ramang.

Diskusi berlangsung hangat hingga pukul 22.00 WITA. Meski fisik terasa lelah akibat perjalanan panjang, atmosfer sharing yang intens membuat para peserta tetap antusias hingga sesi terakhir. Setelah kegiatan usai, peserta kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum melanjutkan rangkaian acara hari kedua.

Menanti Cerita Spektakuler di Hari Kedua
Media Gathering bertema “Cerita dari Tanah Timur” ini bukan sekadar forum pertemuan, tetapi ruang bagi para jurnalis untuk bertukar pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus mengenal lebih dekat peran LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Hari kedua menjanjikan cerita yang tak kalah menarik dari Makassar, dari Tanah Timur, dan dari para penjaga informasi di daerah-daerah jauh Indonesia.

Media Gathering LPS 2025 menghadirkan rangkaian pengalaman yang tak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menyatukan para jurnalis dari berbagai wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua dalam satu perjalanan penuh canda, hujan, dan cerita dari Tanah Timur.

Pagi itu, tepat pukul 08.00 WITA, sebuah bus besar yang membawa 25 jurnalis dari Manado, Palu, Kendari, dan Sorong mulai bergerak meninggalkan Kota Makassar.

Suasana hangat langsung terbentuk sejak roda bus berputar. Gelak tawa, saling sapa, hingga obrolan ringan menjadi pembuka perjalanan menuju Kampung Wisata Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, kawasan geopark yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, rombongan tiba di dermaga kecil yang menjadi pintu masuk wisata.

ISTORI NEWS : Sailing Experience di kawasan Losari CPI Lae-Lae menggunakan KLM Malayeka, kapal pinisi yang menjadi ikon bahari Sulawesi Selatan.

Dari sanalah para jurnalis menaiki perahu-perahu kayu masyarakat setempat, menyusuri sungai yang tenang, dikelilingi jajaran pohon nipah dan mangrove yang seolah membingkai tiap sisi perjalanan.

Namun cuaca tiba-tiba berubah. Hujan deras disertai angin kencang memaksa rombongan berteduh di rumah warga di sekitar area wisata. Meski begitu, suasana tetap cair. Hujan justru menjadi latar cerita baru yang menambah warna dalam perjalanan.

Setibanya di kawasan karst, seorang tokoh masyarakat setempat menjelaskan asal-usul bebatuan karst yang menjulang megah tersebut.

Menurutnya, wilayah itu dahulu merupakan dasar laut yang mengalami perubahan geologi ratusan ribu tahun lalu hingga menjadi gugusan karst yang kini mendunia.

Kehadiran tim Event Organizer dan perwakilan LPS yang mendampingi sejak hari pertama membuat perjalanan semakin aman dan tertata.

Usai menjelajahi Rammang-Rammang, agenda dilanjutkan dengan Sailing Experience di kawasan Losari CPI Lae-Lae menggunakan KLM Malayeka, kapal pinisi yang menjadi ikon bahari Sulawesi Selatan.

Di atas buritan kapal, suasana semakin meriah. Canda, foto bersama, hingga menikmati hembusan angin laut mengiringi perjalanan senja. LPS juga menyiapkan aneka permainan sebagai bentuk apresiasi kepada para jurnalis Sulampua.

Momen-momen itu menjadi pengalaman berharga yang akan melekat dalam ingatan peserta.

ISTORI NEWS : Penyerahan penghargaan sebagai media teraktif menulis berita LPS oleh Kepala Kantor Perwakilan (KPW) III LPS, Fuad Zaen, didampingi Prayitno Amigoro, Deputi Kepala Kantor LPS III Makassar.

Kepala Kantor Perwakilan (KPW) III LPS, Fuad Zaen, disela-sela Sailing Experience di atas kapal KLM Malayeka, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir dari empat wilayah, yakni Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Papua Barat Daya, khususnya dari Kota Sorong.

“Terima kasih atas kebersamaan dan kerja sama rekan-rekan media selama satu tahun ini. Bersama LPS, kita terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar semakin cerdas dalam literasi keuangan dan terhindar dari tipu daya investasi ilegal,” jelasnya.

Acara puncak media gathering kali ini digelar di atas kapal pinisi, yang merupakan ikon budaya Sulawesi Selatan. Menurutnya, keberadaan jurnalis dari empat daerah ini sekaligus menjadi bentuk dukungan dalam mempromosikan kekayaan budaya dan destinasi lokal.

“Selain kegiatan LPS, saya mendorong teman-teman jurnalis untuk menulis tentang kapal pinisi, Ramang-Ramang, jalangkote, coto, dan kuliner Makassar lainnya. Makassar ini kota makan enak,” katanya sambil berkelakar.

Menyirat sejarah singkat Kapal Pinisi Warisan Leluhur yang Mendunia. Kapal tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan mahakarya budaya bahari Nusantara.

Kapal ini berasal dari Suku Bugis-Makassar dan telah menjadi simbol kejayaan pelaut Sulawesi sejak abad ke-14.

Pinisi pertama diyakini dibuat oleh masyarakat Bulukumba, khususnya dari kawasan Bira, Ara, dan Lemo-Lemo.

Proses pembuatannya yang menggunakan teknik sambung kayu tanpa paku metal menjadi ciri khas yang membuatnya dihormati dunia.

Pada 2017, UNESCO menetapkan Seni Pembuatan Kapal Pinisi sebagai Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Kapal inilah yang melintasi berbagai samudra sejak dahulu, dari nusantara hingga daratan China, Australia hingga Afrika Timur membangun reputasi pelaut Nusantara sebagai navigator ulung.

Kilau Kembang Api Penutup Kebersamaan
Menjelang malam, perjalanan yang sudah penuh tawa itu mencapai puncaknya.

Kembang api dinyalakan dari atas pinisi, menghiasi langit laut Makassar. Dentuman mercun menjadi penanda berakhirnya rangkaian Media Gathering LPS Sulampua, sekaligus simbol terjalinnya hubungan yang lebih erat antara LPS dan para jurnalis dari kawasan Timur Indonesia.

Meski cuaca sempat tak bersahabat, seluruh perjalanan hari kedua membuktikan satu hal, bahwa cerita terbaik justru lahir dari perjalanan yang tidak selalu mulus. Dan hari itu, Makassar menghadiahkan kisah yang akan dikenang lintas daerah, lintas media, dan lintas waktu.

Pos terkait