ISTORINEWS.COM, Kota Sorong – Mantan Wali Kota Sorong dua periode, Lambert Jitmau, mengaku bahagia melihat perkembangan Kota Sorong yang terus bertumbuh. Namun, ia menegaskan bahwa kemajuan tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan lahir dari keberanian dalam mengambil keputusan besar.
“Saya bahagia melihat Kota Sorong hari ini. Tapi semua yang ada ini tidak jatuh dari langit. Ada pemimpinnya, ada yang berani mengambil sikap,” tegas Lambert dalam pernyataannya.
Ia menuturkan, sejak awal kepemimpinannya, dirinya memiliki visi besar menjadikan Kota Sorong sebagai kota termaju di Tanah Papua.
Menurutnya, secara nasional wilayah Papua Barat Daya yang berada di Kepala Burung diproyeksikan berkembang lebih cepat dibanding daerah lain di Tanah Papua, namun kemajuan itu sangat bergantung pada kepemimpinan yang berani dan bertanggung jawab.
“Untuk membuat daerah ini maju tidak jatuh dari langit. Tergantung pemimpin. Pemimpin yang berani, yang berani bertindak, bukan hanya banyak bicara,” ujarnya.
Lambert mengungkapkan sejumlah kebijakan strategis yang diambilnya saat menjabat, termasuk pembukaan dua jalur jalan utama dari Kilometer 12 hingga Kilometer 18 yang disebutnya sebagai langkah besar dengan risiko anggaran yang tidak kecil.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pembenahan besar-besaran di Bandar Udara Domine Eduard Osok (Bandara Deo). Ia mengaku melakukan pembongkaran dan pembayaran ganti rugi yang nilainya mencapai Rp30–40 miliar, meski saat itu APBD Kota Sorong masih berkisar Rp700 miliar.
“Saya dilantik 22 Juni, tanggal 28 saya sudah masuk bongkar Bandara Deo. Dengan anggaran minim, saya berani ambil langkah besar,” katanya.
Menurut Lambert, pembangunan sektor perhubungan menjadi kunci kemajuan Papua Barat Daya, baik melalui jalur udara maupun laut.
Ia juga mengklaim telah membawa Presiden saat itu, Joko Widodo, untuk melihat langsung kondisi bandara dan pelabuhan Sorong sebagai bagian dari upaya mendorong dukungan pusat.
Selain bandara, ia menyebut pembenahan pelabuhan sebagai tonggak penting. Jika sebelumnya kapal hanya sandar satu dan sebagian besar berlabuh di tengah laut, kini fasilitas pelabuhan telah lebih representatif sebagai pintu gerbang Tanah Papua.
Lambert juga menyinggung proyek reklamasi pantai seluas kurang lebih 50 hektare yang kini menjadi ikon baru Papua Barat Daya. Kawasan tersebut, menurutnya, dibangun dengan keberanian mengambil risiko, termasuk pembayaran ganti rugi kepada masyarakat adat.
“Jangan datang menikmati sejarah. Kalau bisa, jadilah pelaku sejarah,” tandasnya.
Ia menegaskan, kemajuan daerah membutuhkan pemimpin yang mampu melihat kebutuhan masyarakat, mempertimbangkan secara matang, lalu melaksanakan dengan keberanian demi kesejahteraan rakyat.
Lambert berharap pembangunan Kota Sorong terus dilanjutkan dengan semangat keberanian dan komitmen kuat, agar posisi Sorong sebagai “Kepala Burung” Papua benar-benar menjadi pusat penggerak pertumbuhan di kawasan timur Indonesia.













Hari ini : 1247
Kemarin : 1266
Total Kunjungan : 449467
Hits Hari ini : 3633
Who's Online : 10