Direktur Institut Usba Raja Ampat Inisiasi Penulisan Buku “Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat”

ISTORI NEWS : Direktur Institut Usba Raja Ampat, Charles A. M. Imbir, menjadi inisiator penulisan buku berjudul “Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat”.

ISTORINEWS.COM, Raja Ampat- Direktur Institut Usba Raja Ampat, Charles A. M. Imbir, menjadi inisiator penulisan buku berjudul “Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat”.

Karya ini bertujuan melestarikan cerita-cerita adat dan asal-usul masyarakat Usba yang hampir punah serta menjadi bahan literasi bagi generasi muda di Raja Ampat.

Bacaan Lainnya

Menurut Charles Imbir, penulisan buku ini berangkat dari keprihatinan terhadap hilangnya tradisi tutur yang selama ini diwariskan secara lisan oleh para tetua adat.

“Cerita-cerita adat dan asal-usul ini mulai hilang karena tidak lagi diceritakan dan tidak terdokumentasi. Semangat kami adalah mengembalikan generasi muda agar memahami perjalanan hidup sukunya sendiri,” ujarnya.

ISTORI NEWS : Direktur Institut Usba Raja Ampat, Charles A. M. Imbir.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah dan identitas budaya sangat penting untuk memperkuat rasa kebersamaan antar-suku di Raja Ampat.

“Ketika anak-anak muda memahami akar sejarahnya, mereka akan lebih mudah berinteraksi dan menghargai suku-suku lain. Ini menjadi dasar bagi persatuan di Raja Ampat, sebagai pertemuan berbagai peradaban yang berjalan bersama,” jelasnya.

Buku “Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat” disusun berdasarkan hasil wawancara dengan 62 narasumber dari 21 lokasi berbeda.

Menurutnya, cerita-cerita yang dihimpun menggambarkan perjalanan panjang masyarakat Usba, mulai dari pergerakan leluhur dari wilayah Manokwari, Wajo, hingga menetap di Raja Ampat saat ini.

Selain bersumber dari tuturan lisan, buku ini juga dilengkapi dengan catatan dan arsip dari peneliti asing seperti Prancis dan Belanda, untuk memperkuat kronologi dan pembuktian sejarah.

“Kami berusaha menyusun timeline yang menggambarkan kedatangan, pertemuan antar-suku, serta interaksi dengan bangsa lain di masa lalu,” ungkap Charles.

Ia berharap, melalui buku ini, nilai-nilai sejarah dan peradaban masyarakat Raja Ampat dapat dipahami secara utuh. Dengan demikian, konflik budaya maupun perbedaan antar-suku dapat diminimalisir, dan semangat persatuan di Tanah Papua semakin kuat.

Pos terkait