ISTORINEWS.COM, Kota Sorong – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan Kota dan Kabuoaten Sorong di SMK Negeri 1 Kota Sorong, Selasa (26/5/2026).
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa masih banyak guru di Indonesia khususnya di Papua Barat Daya yang belum memiliki kualifikasi pendidikan D4 atau S1.
Sebagian di antaranya masih lulusan SLTA, D2, maupun D3. Karena itu, pemerintah memberikan kesempatan bagi para guru di Papua Barat Daya untuk melanjutkan pendidikan melalui sistem RPL.
“Kita beri kesempatan untuk para guru di Papua Barat Daya dapat melanjutkan studi S1 melalui sistem RPL dan diberikan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester per mahasiswa,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, pada tahun 2025 program tersebut telah diikuti oleh 12.500 guru di seluruh Indonesia dan kini telah memasuki semester kedua. Sebagian peserta bahkan diperkirakan dapat menyelesaikan studi dan wisuda pada pertengahan tahun 2026.
Sementara untuk tahun ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengalokasikan program RPL bagi 150 ribu guru yang belum memiliki kualifikasi D4 atau S1.
Abdul Mu’ti pun meminta para kepala daerah dan dinas pendidikan untuk aktif melakukan sosialisasi agar para guru dapat memanfaatkan program tersebut.
Menurutnya, peningkatan kualifikasi guru menjadi langkah penting karena setelah memiliki ijazah D4 atau S1, para guru dapat mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Setelah memenuhi ketentuan jam mengajar, mereka juga berhak memperoleh tunjangan sertifikasi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
“Inilah komitmen kami dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” katanya.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa kualitas guru menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan. Menurutnya, secanggih apa pun teknologi, semegah gedung sekolah, dan selengkap apa pun sarana-prasarana pendidikan, hasil maksimal tidak akan tercapai tanpa guru yang berkualitas.
“Guru adalah kunci. Guru adalah tokoh yang paling menentukan dalam proses belajar mengajar di sekolah,” tegasnya.
Selain peningkatan kualifikasi akademik, pemerintah juga terus memperkuat kapasitas guru melalui berbagai pelatihan. Salah satu program prioritas adalah pelatihan pembelajaran mendalam atau deep learning yang diterapkan di seluruh mata pelajaran untuk memperkuat pendidikan karakter siswa.
Tak hanya itu, para guru juga akan dibekali pelatihan bimbingan konseling agar mampu menjadi guru wali yang mendampingi para murid secara lebih dekat.
Dengan pendampingan tersebut, siswa diharapkan mendapatkan perhatian yang lebih optimal, baik dalam proses belajar maupun pembentukan karakter.
“Guru tidak sekadar menjadi agen pembelajaran, tetapi juga agen dalam membangun peradaban,” tutup Abdul Mu’ti.












Hari ini : 770
Kemarin : 2448
Total Kunjungan : 442133
Hits Hari ini : 1246
Who's Online : 40