ISTORINEWS.COM, Raja Ampat – Keputusan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama PT Belibis terkait penyesuaian tarif penumpang kapal cepat rute Sorong-Waisai mulai 1 September 2026 mendapat perhatian dari pelaku pariwisata di Kabupaten Raja Ampat.
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Raja Ampat, Ferdinan Dimara, mengapresiasi kebijakan yang tetap mempertahankan tarif Rp125.000 bagi penumpang yang memiliki KTP atau berdomisili di Raja Ampat.
Namun, ia meminta pemerintah mempertimbangkan kembali kenaikan tarif bagi penumpang lainnya karena dinilai berpotensi memengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke Raja Ampat.
Menurut Ferdinan, sebagai praktisi pariwisata dan pemandu wisata, pihaknya sangat berkepentingan terhadap kebijakan yang berkaitan dengan biaya perjalanan wisatawan.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan pemerintah provinsi, terutama karena harga bagi masyarakat asli Raja Ampat atau yang ber-KTP Raja Ampat tetap Rp125.000. Tetapi, kenaikan harga bagi yang lainnya perlu dipertimbangkan kembali,” ujarnya.
Ia mengatakan, sebelumnya pelaku pariwisata juga telah menghadapi kenaikan sejumlah biaya transportasi, termasuk tarif boat di Raja Ampat. Dengan adanya kenaikan tarif kapal Sorong-Waisai, dikhawatirkan semakin menambah beban biaya wisatawan.
Ferdinan juga mengapresiasi keberadaan PT Belibis yang selama bertahun-tahun telah melayani masyarakat dan wisatawan dari Sorong menuju Raja Ampat maupun sebaliknya.
Namun, menurutnya, kenaikan tarif seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas, baik di kapal maupun di Pelabuhan Rakyat Sorong.
Ia menyoroti sejumlah persoalan yang masih dikeluhkan wisatawan, mulai dari keamanan barang, kenyamanan pelayanan, hingga kebersihan lingkungan pelabuhan.
“Kalau tarif dinaikkan, harapan kami fasilitas di dalam kapal maupun di pelabuhan juga terus dibenahi. Jangan sampai wisatawan membayar lebih mahal, tetapi kenyamanan dan pelayanan yang mereka dapatkan belum sesuai,” katanya.
Ferdinan mengaku pernah mengalami sendiri pengalaman kurang menyenangkan saat berada di Pelabuhan Rakyat bersama keluarganya. Menurut dia, persoalan seperti itu perlu menjadi perhatian pemerintah dan pihak pengelola agar tidak dialami wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Selain keamanan dan kenyamanan, ia juga menyoroti masalah kebersihan di sekitar pelabuhan. Menurutnya, wisatawan yang hendak menuju Raja Ampat sudah seharusnya mendapatkan kesan pertama yang baik sejak tiba di Sorong.
“Wisatawan datang untuk melihat sesuatu yang indah. Tetapi sebelum sampai di Raja Ampat, mereka sudah melihat sampah di pelabuhan. Kadang kami sebagai pemandu wisata malu untuk menjelaskan kondisi seperti itu,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pemandu wisata merupakan salah satu ujung tombak pariwisata karena berinteraksi langsung dengan wisatawan dan memberikan informasi mengenai destinasi, budaya maupun lingkungan Raja Ampat.
Karena itu, Ferdinan berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya fokus pada penetapan tarif, tetapi juga memastikan peningkatan pelayanan, keamanan dan kebersihan.
“Kami berharap keputusan yang sudah dibuat ini dapat dipertimbangkan kembali, terutama karena kami khawatir dampaknya terhadap kunjungan wisatawan ke Raja Ampat,” pungkasnya.






