Wisatawan Dibebani Banyak Tarif, Asosiasi Homestay Khawatir Kunjungan ke Raja Ampat Menurun

Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat, Christian Sawuyai.

ISTORINEWS.COM, Raja Ampat – Menanggapi Keputusan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama PT Belibis terkait penyesuaian tarif penumpang kapal cepat rute Sorong-Waisai mulai 1 September 2026, membuat Asosiasi Homestay Raja Ampat angkat bicara.

Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat, Christian Sawuyai, mengatakan pihaknya mengapresiasi keputusan yang tetap mempertahankan tarif Rp125.000 bagi penumpang berkategori Raja Ampat.

Bacaan Lainnya

Namun, ia menyoroti tarif baru bagi penumpang non-Raja Ampat sebesar Rp170.000 dan wisatawan asing sebesar Rp200.000 per orang untuk rute Sorong-Waisai maupun sebaliknya.

Menurut Christian, kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena wisatawan yang datang ke Raja Ampat harus menanggung sejumlah biaya lainnya.

“Kami mengapresiasi apa yang telah disepakati oleh PT Belibis bersama pemerintah dan pihak terkait. Tarif bagi penumpang yang ber-KTP Raja Ampat masih Rp125.000. Tetapi, khusus wisatawan asing Rp200.000 per orang ini tentu menjadi perhatian kami,” jelasnya.

Christian mengatakan, persoalan utama bukan semata-mata pada besaran tarif tiket kapal, melainkan akumulasi berbagai biaya yang harus dikeluarkan wisatawan selama perjalanan menuju Raja Ampat.

Ia menyebut, wisatawan juga telah menghadapi berbagai pungutan atau tarif masuk, sehingga jika seluruh biaya tersebut bertambah, dikhawatirkan dapat memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung.

“Ini yang kemudian menjadi perbincangan teman-teman pelaku wisata karena kami melihat akan ada pengaruh terhadap wisatawan yang datang ke Raja Ampat,” katanya.

Menurut Christian, dampak tersebut pada akhirnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata, khususnya pemilik dan pengelola homestay.

Ia menjelaskan, sebagian besar usaha homestay di Raja Ampat dikelola masyarakat lokal sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisatawan.

“Usaha homestay paling banyak dikelola masyarakat lokal. Mereka hidup dari bisnis homestay dan sangat bergantung pada wisatawan yang datang. Jadi, kebijakan seperti ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pendapatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Christian menambahkan, pihaknya tidak menolak adanya penyesuaian tarif apabila dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan.

Ia meminta seluruh instansi yang berkaitan dengan pelayanan wisata di Raja Ampat bersama-sama memastikan wisatawan mendapatkan fasilitas yang layak.

Menurutnya, fasilitas seperti ruang tunggu, toilet, jembatan, hingga pelayanan di kawasan pelabuhan harus diperhatikan.

“Kita bersyukur ruang tunggu yang besar sudah tersedia. Tetapi masih ada kekurangan, seperti toilet yang harus dijaga kebersihannya dan jembatan yang perlu diperhatikan. Semua instansi yang punya hubungan dengan pelayanan wisata harus sama-sama memperhatikan ini,” katanya.

Christian menegaskan, wisatawan tentu bersedia membayar apabila biaya yang dikeluarkan sebanding dengan fasilitas dan pelayanan yang diterima.

“Jangan sampai tamu hanya datang dan membayar berbagai tarif, tetapi fasilitas yang disiapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan,” pungkasnya.

Pos terkait