Sengkanaung di Kota Sorong Kembali Dibangkitkan, Pemuda Sangihe Talaud Diajak Bersatu

ISTORI NEWS : Sengkanaung di Kota Sorong Kembali Dibangkitkan, Pemuda Sangihe Talaud Diajak Bersatu.

ISTORINEWS.COM, Kota Sorong – Semangat kebangkitan pemuda-pemudi Sengkanaung Sangihe Talaud di Kota Sorong kembali digaungkan melalui musyawarah dan deklarasi revitalisasi yang digelar di aula hotel Luxio, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali peran generasi muda dalam menjaga sejarah, budaya, serta identitas leluhur Sangihe Talaud di Tanah Papua.

Bacaan Lainnya

Ketua Panitia Revitalisasi dan Deklarasi Kebangkitan Pemuda-Pemudi Sengkanaung, Yuliana Maria Gimilova Macpal, mengatakan kegiatan tersebut digelar karena keberadaan Sengkanaung di Kota Sorong dinilai telah cukup lama mengalami masa redup.

“Sengkanaung di Kota Sorong ini sudah cukup lama redup. Sehingga kegiatan musyawarah ini dilakukan untuk merevitalisasi sekaligus membangkitkan semangat pemuda-pemudi Sengkanaung Sangihe Talaud,” kata Yuliana.

ISTORI NEWS : Foto bersama ketua K2Satal Kota Sorong bersama kepala dinas Kominfo Kota Sorong, James Burung usai membuka kegiatan musyawarah pemuda pemudi Sengkanaung Kota Sorong.

Menurutnya, gerakan kebangkitan pemuda Sengkanaung tidak hanya menyasar generasi muda Sangihe Talaud di Kota Sorong, tetapi akan diarahkan mencakup seluruh wilayah Provinsi Papua Barat Daya.

Kota Sorong, lanjut Yuliana, dipilih sebagai langkah awal karena selain menjadi pintu masuk Papua Barat Daya, juga merupakan ibu kota provinsi. Dari Kota Sorong, gerakan tersebut diharapkan dapat berkembang ke daerah lainnya.

Yuliana menegaskan, generasi muda Sengkanaung perlu menunjukkan identitas dan sejarah keberadaan masyarakat Sangihe Talaud di Tanah Papua. Menurutnya, masyarakat Sangihe Talaud tidak hanya hadir sebagai pedagang, tetapi juga memiliki peran dalam perjalanan sejarah, termasuk dalam penyebaran Injil dan pendidikan.

“Pemuda-pemuda Sengkanaung harus dikenal banyak orang. Kami bukan datang sebagai pedagang, namun kami datang sebagai pelaku sejarah, membawa Injil dan juga sebagai tenaga pendidik,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh pemuda berdarah Sangihe, Talaud dan Nusa Utara untuk mengesampingkan ego kelompok dan memperkuat persatuan.

“Mari kita sama-sama bersatu. Kita hilangkan ego dari orang tua kita, karena kita adalah pemuda-pemudi generasi penerus bangsa yang harus menjaga nilai-nilai sejarah leluhur dan budaya Sangihe Talaud,” ujarnya.

Pemerintah Kota Sorong turut memberikan dukungan terhadap kebangkitan pemuda Sengkenaung. Wali Kota Sorong melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Sorong, James Burung, mengajak pemuda-pemudi Sengkenaung di bawah naungan Kerukunan Keluarga Sangihe, Talaud, Sitaro (K2Satal) untuk bersinergi dalam mendukung pembangunan daerah.

James menyampaikan apresiasi kepada K2 Satal yang selama ini dinilai telah berkontribusi dalam pemerintahan, pembangunan, keamanan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan di Kota Sorong.

“Harapan kami, hasil daripada musyawarah ini dapat memberikan manfaat yang baik, khususnya dalam membantu program-program kerja pemerintah sesuai dengan visi dan misi Bapak Wali Kota Sorong, yakni menjadikan Kota Sorong sebagai kota yang maju, indah, aman, bersih dan sejahtera,” katanya.

Ia menilai musyawarah pemuda Sengkenaung merupakan langkah positif untuk melanjutkan tongkat estafet organisasi sekaligus memperkuat peran generasi muda di tengah masyarakat yang heterogen.

“Kami mewakili pemerintah mengajak pemuda-pemudi Sengkenaung untuk bersama-sama bersinergi dengan Pemerintah Kota Sorong, mendukung visi dan misi Wali Kota Sorong serta turut mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Kerukunan Keluarga Sangihe Talaud (K2 Satal) Kota Sorong, Theopilus Bolantimuhe, mendorong generasi muda Sangihe Talaud yang lahir dan besar di tanah rantau untuk kembali mengenal budaya dan nilai-nilai leluhur.

Ia menyebut sekitar 90 persen generasi muda Sangihe Talaud saat ini lahir di perantauan, khususnya di Tanah Malamoi. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu penyebab semakin terputusnya pemahaman generasi muda terhadap kultur dan budaya Sangihe Talaud.

“Bisa dikatakan 90 persen hari ini generasi muda ini adalah anak-anak yang terlahir di perantauan, terlebih khusus di atas Tanah Malamoi. Sehingga nilai-nilai kultur budaya itu boleh dikatakan semakin hari semakin terputus,” ujarnya.

Theopilus berharap kebangkitan kembali Pemuda Sengkanaung dapat menjadi momentum untuk mempersatukan generasi muda berdasarkan nilai-nilai budaya leluhur. Ia bahkan mengusulkan pelaksanaan seminar budaya sebagai ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal kembali sejarah dan identitas mereka.

“Kita sebagai anak-anak Sangihe Talaud yang lahir di rantau tentunya begitu miskin tentang budaya, tentang Sangihe Talaud itu sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan budaya akan memperkuat kesadaran generasi muda mengenai identitas mereka sekaligus mendorong semangat persatuan.

Theopilus juga mengingatkan bahwa sejarah kedatangan leluhur Sangihe Talaud di Tanah Malamoi tidak semata-mata berkaitan dengan pekerjaan. Para pendahulu, katanya, juga membawa misi pelayanan dan nilai-nilai kekristenan.

Karena itu, ia berharap program kerja Pemuda Sengkanaung tidak berhenti pada kegiatan formal organisasi, tetapi menghasilkan program konkret yang dapat dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi generasi muda Sangihe Talaud di Tanah Malamoi.

“Dalam merumuskan program kerja hari ini, tentunya kita tidak sekadar berbicara tentang hal-hal yang melengkapi suatu korum dalam musyawarah ini, tetapi tentang hal-hal apa yang bisa kita capai dan bisa kita kerjakan,” pungkasnya.

Revitalisasi Pemuda Sengkanaung diharapkan menjadi titik awal kebangkitan generasi muda Sangihe Talaud di Papua Barat Daya, sekaligus memperkuat persatuan, identitas, sejarah dan pelestarian budaya leluhur di Tanah Malamoi

Pos terkait