Denata Rumsumbre dan Baki Bendera Merah Putih: Sebuah Kebanggaan Keluarga yang Lahir dari Perjuangan

ISTORI NEWS : Denata Rumsumbre dan Baki Bendera Merah Putih: Sebuah Kebanggaan Keluarga yang Lahir dari Perjuangan.

HUT ke- 81 RI di Kota Sorong :

ISTORINEWS.COM, Kota Sorong – Di tengah khidmatnya upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Sorong, perhatian tertuju pada seorang remaja perempuan yang berdiri dengan penuh keteguhan membawa baki bendera Merah Putih.

Namanya Denata Adventia Rumsumbre, siswi kelas XI SMA Negeri 2 Kota Sorong. Di usianya yang baru 16 tahun, Denata mendapat kepercayaan menjalankan salah satu tugas penting dalam rangkaian upacara kemerdekaan.

Bacaan Lainnya

Bagi Denata, berdiri membawa baki bendera Merah Putih bukan sekadar menjalankan tugas. Di balik langkah dan ketenangannya, ada proses latihan, rasa lelah, doa, serta dukungan orang tua yang mengantarkannya hingga sampai pada momen yang membanggakan itu.

Usai menjalankan tugas, perasaan bangga sekaligus haru menyelimuti dirinya.

ISTORI NEWS : Pembawa baki bendera merah putih pada upaxara HUT ke 81 Kemerdekaan RI, Denata Adventia Rumsumbre.

“Saya merasa senang karena selama ini saya dipercaya dan berhasil menjalankan tugas. Semua pembelajaran dan latihan yang saya jalani juga berhasil,” ujar Denata.

Kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja. Sejak awal masa latihan, Denata harus menjalani berbagai tahapan persiapan. Ia berusaha mengikuti setiap latihan dengan sungguh-sungguh, memantapkan diri dan membangun keberanian agar mampu menjalankan tugas dengan baik.

Bagi seorang pelajar, proses tersebut tentu bukan hal yang mudah. Ada rasa lelah yang harus dilawan, ada kedisiplinan yang harus dijaga, dan ada tanggung jawab besar yang harus dipikul ketika akhirnya dipercaya membawa baki Merah Putih di hadapan masyarakat.

Namun, Denata memilih untuk bertahan.

Baginya, setiap proses memiliki arti. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak dapat diraih secara instan, melainkan membutuhkan kemauan untuk terus belajar dan tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Di balik keberhasilannya, Denata juga melihat peran besar Tuhan dan kedua orang tuanya, Derek Rumsumbre dan Sarce Torey.

Ia mengaku bersyukur karena selalu mendapatkan dukungan dari keluarga. Sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.

“Saya bangga karena saya bisa berpikir sendiri. Selain karena Tuhan Yesus, juga karena dukungan kedua orang tua saya,” tuturnya.

Bagi Denata, dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjalani setiap proses. Kepercayaan yang diberikan keluarga membuatnya semakin yakin untuk menyelesaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya.

Kini, pengalaman membawa baki bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan masa mudanya. Sebuah pengalaman yang bukan hanya akan dikenang sebagai tugas dalam upacara kemerdekaan, tetapi juga sebagai pelajaran tentang tanggung jawab, disiplin, keberanian dan kerja keras.

Denata pun memiliki pesan sederhana bagi generasi muda yang sedang mengejar cita-cita.

Menurutnya, rasa lelah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Setiap anak muda harus berani memulai dan menjalani proses dengan tekun.

“Walaupun capek, tidak boleh menyerah. Karena untuk mencapai tujuan, kita harus memulai sebuah proses,” katanya.

Kalimat sederhana itu menjadi cerminan dari perjalanan Denata sendiri.

Pada 15 Desember 2009, Denata lahir dan tumbuh sebagai seorang anak yang kini sedang menapaki masa remaja. Hari ini, ia telah mendapatkan kesempatan untuk berdiri membawa simbol kebanggaan bangsa di tengah peringatan kemerdekaan.

Baki yang dibawanya mungkin hanya terlihat sebagai bagian kecil dari sebuah upacara. Namun bagi Denata dan keluarganya, momen itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Ada doa seorang anak.

Ada dukungan orang tua.

Ada keringat dari latihan yang panjang.

Dan ada sebuah pesan bahwa keberhasilan, sekecil apa pun bentuknya, selalu lahir dari keberanian untuk menjalani proses.

Dari tangan seorang remaja berusia 16 tahun, Merah Putih dibawa dengan penuh kebanggaan. Dan dari pengalaman itu, Denata belajar satu hal penting: untuk mencapai cita-cita, seseorang harus berani memulai, bertahan dalam proses, dan tidak mudah menyerah.

Pos terkait