Direktur Institut Usba Raja Ampat: Buku Sejarah Usba Jadi Jembatan Identitas dan Persatuan Generasi Papua

ISTORI NEWS : Direktur Institut Usba Raja Ampat: Buku Sejarah Usba Jadi Jembatan Identitas dan Persatuan Generasi Papua.

ISTORINEWS.COM, Raja Ampat– Institut Usba Raja Ampat menggelar kegiatan diskusi buku dan pameran foto dengan judul Reklnstruksi Sejarah Suku Usba di Raja Ampat dengan tagline “Merajut Kisah dari Pulau ke Pulau”. Kegiatan itu berlangsung di hotel Mariat Sorong, Kamis (29/1/2026).

Direktur Institut Usba Raja Ampat, Charles A.M. Imbeir, menjelaskan bahwa buku yang disusun atas amanat Dewan Adat Usba merupakan upaya mendokumentasikan asal-usul dan perjalanan panjang suku Usba, sekaligus menyampaikan pesan persatuan bagi generasi Papua masa kini dan masa depan.

Bacaan Lainnya

Charles mengatakan, buku tersebut mengisahkan perjalanan suku Usba yang sejak masa lalu mampu menyatu dan hidup bersama di wilayah yang kini dikenal sebagai Ayau atau Usba. Namun, cerita-cerita sejarah itu dinilai sempat terputus dan tidak lagi tersambung dengan generasi muda.

ISTORI NEWS : Direktur Institut Usba, Charles A. M Imbir, ST, M.Si.

“Buku ini ditulis untuk menghubungkan kembali generasi yang hari ini mulai kehilangan identitas, baik identitas pertama maupun kedua. Ini adalah amanat langsung dari Dewan Adat Usba,” ujar Charles.

Ia menjelaskan, dalam konteks era otonomi khusus, terdapat beragam tafsir terhadap wilayah adat Papua, termasuk Wilayah Adat Papua (WAP).

Karena itu, penulisan buku ini juga menjadi bagian dari upaya meluruskan narasi sejarah, sekaligus menceritakan perjalanan kemanusiaan dan peradaban Papua yang telah berlangsung jauh sebelum masa kini.

Menurut Charles, buku tersebut didukung oleh catatan sejarah yang cukup panjang. Salah satunya ditampilkan melalui pameran foto dan dokumen sejarah abad ke-18, termasuk peta tahun 1739 yang mencatat perjalanan pelayaran dan pertemuan dengan suku Usba.

Catatan lain juga memuat pelayaran bangsa Prancis serta dokumen yang menyebutkan wilayah Papua, dari Papua Barat hingga Jayapura, sebagai satu kesatuan.

“Perjalanan peradaban yang kami angkat tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga pertemuan besar antara Austronesia dan Indonesia. Dari sanalah kolaborasi orang Papua hidup bersama secara damai bisa dirajut kembali, baik hari ini maupun ke masa depan,” katanya.

Ia mencontohkan Raja Ampat sebagai ruang pertemuan berbagai suku, seperti suku-suku berbahasa Biak dan Maya, yang dapat menyatu karena memiliki perjalanan sejarah bersama di masa lalu.

Melalui buku ini, generasi yang sempat terputus diharapkan kembali tersambung dengan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan warisan leluhur, termasuk nilai ketuhanan sebagai pencipta kehidupan.

Charles menegaskan, pesan utama buku ini adalah persatuan. Buku tersebut mengisahkan bagaimana leluhur membentuk persatuan melalui perjalanan panjang, rute-rute pelayaran, perdagangan, pernikahan, serta pertemuan antarsuku, mulai dari wilayah Mamberamo hingga Raja Ampat.

Dalam perjalanan itu, suku Usba bertemu dan menyatu dengan saudara-saudara dari Ambai, Nungfur, Biak, Ambar, Buli, hingga wilayah lainnya, yang kemudian membentuk sub-suku Usba.

“Disebut sub-suku Usba karena mereka bersatu dengan menggunakan bahasa Biak, seperti Wardo, Betel, Kafdaron, dan Omkai, namun hidup dan berkembang di Raja Ampat,” jelasnya.

Buku ini juga merekam pelajaran-pelajaran leluhur dari masa lampau, baik dalam aktivitas perdagangan, pernikahan adat, hingga interaksi dengan sistem pemerintahan seperti kesultanan.

Meski beragam pengaruh masuk, Charles menegaskan bahwa kebudayaan yang dominan tetap kebudayaan Biak.
Terkait proses penyusunan, Charles mengungkapkan bahwa diskusi untuk menyatukan seluruh gagasan memakan waktu sekitar empat tahun melalui rapat-rapat Dewan Adat Usba.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa buku tersebut tidak menimbulkan perpecahan atau polemik soal keaslian identitas.

“Buku ini bukan untuk mencerai-beraikan, tetapi untuk membuka kesadaran persatuan yang diikat oleh kesamaan persepsi, bukan karena keterpaksaan,” tegasnya.

Setelah kesepakatan tercapai, proses penulisan dilakukan selama enam bulan. Buku tersebut resmi diluncurkan dan diumumkan di Perpustakaan Nasional pada 28 April 2025, kemudian disosialisasikan ke kampung-kampung sebagai bagian dari upaya mengembalikan kesadaran sejarah masyarakat.

Adapun tim penulis terdiri dari tiga orang penulis dari Jakarta dan lima anak muda lokal Raja Ampat. Proses penulisan dilakukan secara kolaboratif melalui diskusi-diskusi bersama agar buku tersebut benar-benar lahir dari suara dan pengalaman masyarakat.

Charles berharap, buku ini dapat menjadi jembatan emas yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Papua, serta mendorong lahirnya penelitian dan penulisan lanjutan tentang sejarah dan peradaban Papua.

Pos terkait