ISTORINEWS.COM, Papua Barat Daya – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya mendukung pengembangan skema pembiayaan berkelanjutan untuk memperkuat konservasi pari manta di Kabupaten Raja Ampat. Skema tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati laut, tetapi juga meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu mengatakan, pari manta merupakan aset ekologis yang perlu dijaga bersama karena keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, sekaligus potensi ekonomi melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.
“Pari manta merupakan aset ekologis yang harus dijaga bersama, karena pari manta bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati laut, keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal,” katanya di Sorong, Jumat.
Dukungan tersebut berkaitan dengan inisiatif Konservasi Indonesia (KI) dan Conservation International (CI) yang menggelar lokakarya Manta Impact Bond pada 22–25 September 2026 di Kota Sorong.
Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, UPTD BLUD Raja Ampat, pelaku usaha wisata Raja Ampat, Jaga Laut, serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia Ruth Aprilia menjelaskan, skema Manta Impact Bond dirancang untuk menghimpun pendanaan awal yang selanjutnya disalurkan melalui Manta Resilience Fund.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat.
Menurut Ruth, besaran dan sumber pendanaan awal masih dalam tahap penilaian melalui kajian tapak serta konsultasi dengan para pemangku kepentingan di dua lokasi prioritas.
“Saat ini program Manta Impact Bond sedang dalam tahap perancangan selama dua tahun ke depan dengan dukungan pendanaan dari Agence Française de Développement (AFD),” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyandang dana awal nantinya akan memperoleh pengembalian pokok beserta imbal hasil apabila target konservasi yang telah ditetapkan berhasil dicapai dan diverifikasi secara independen.
Sementara itu, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata mengatakan, perancangan instrumen pembiayaan tersebut disusun berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan konservasi di tingkat tapak.
Hal itu dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan dalam perlindungan pari manta di Raja Ampat.
Berdasarkan hasil lokakarya bersama para pemangku kepentingan, terdapat sejumlah isu prioritas yang perlu ditangani. Di antaranya penangkapan ilegal, praktik wisata yang tidak bertanggung jawab, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sampah dan limbah, sedimentasi habitat, serta risiko tertabrak kapal dan speedboat.
“Proses saat ini berfokus pada penilaian kondisi awal, penyusunan strategi konservasi untuk 20 tahun ke depan, kajian kelayakan, serta perancangan struktur Manta Impact Bond,” katanya.
Iqbal mengatakan, Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029 setelah seluruh tahapan perancangan dan kajian diselesaikan.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat Hasan Makassar.
Ia menyatakan kesiapan pihaknya untuk mendukung implementasi program melalui penguatan pengawasan dan pelestarian habitat pari manta.
“Sebagai mandatori SUOP, kami berkomitmen memastikan setiap alokasi pendanaan berujung pada penguatan aksi nyata patroli pengawasan, pelestarian habitat, serta pendampingan masyarakat adat agar seluruh pemanfaat kawasan berpegang teguh pada prinsip berkelanjutan,” ujarnya.
Hasan menjelaskan, Raja Ampat merupakan salah satu wilayah penting dalam konservasi pari manta karena menjadi habitat bagi populasi pari manta karang atau Mobula alfredi dan pari manta oseanik atau Mobula birostris.
“Konservasi kedua spesies tersebut sangat penting karena pari manta memiliki pertumbuhan dan tingkat reproduksi yang relatif lambat sehingga rentan terhadap berbagai tekanan yang mengancam kelangsungan populasinya,” katanya.
Selain memiliki nilai ekologis, keberadaan pari manta juga memberikan manfaat ekonomi melalui kegiatan pariwisata bahari yang melibatkan masyarakat pesisir.
Karena itu, pengembangan skema pembiayaan konservasi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan pari manta sekaligus memastikan keberadaannya di Raja Ampat tetap terjaga.
Upaya tersebut juga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan lingkungan serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat di Raja Ampat.







