ISTORINEWS.COM, Sorong– Paus Fransiskus, beliau tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual umat Katolik sedunia, tetapi ia juga adalah figur moral dunia yang membawa pesan Kasih, Perdamaian, dan Solidaritas Universal.
Sosoknya menginspirasi, bukan hanya karena kata-katanya, tetapi karena cara ia menjalani hidup sederhana, penuh cinta, dan tulus dengan siapa saja di belahan dunia ini.
Gabriel Asem, salah satu Tokoh Katholik Orang Asli Papua (OAP) di Provinsi Papua sebut Paus Fransiakus semasa hidupnya adalah motivator yang penuh dengan cinta dan kasih.
Gabriel Asem sebelumnya menyampaikan Berbelasungkawa atas wafatnya Paus Fransiskus. Kata Gabriel dirinya bersama seluruh umat Katholik di seluruh dunia merasa kehilangan atas wafatnya Bapa Suci.
“Tentunya saya dan seluruh umat Katholik di seluruh dunia merasa kehilangan seorang Bapa Suci yaitu Sri Paus Fransiskus yang semasa hidupnya memberikan keteladanan kepada umat manusia di dunia terlebih khusus umat Katholik,” ujar mantan Bupati Tambrauw dua periode.
Menururnya semasa hidup Paus Fransiskus menunjukan sikap keteladanan dan cintanya serta karya-karyanya kepada umat manusia di seluruh dunia.
Gabriel Asem mengenang sebuah motivasi Paus Fransiskus yang sedang firal, semasa hidupnya dalam berbagai khotbah, pidato maupun pengajaran, Paus sering kali mengingatkan “pentingnya membangun jembatan dan stop membangun tembok”.
“Semasa hidupnya dalam berbagai khotbah, pidato maupun pengajaran, Sri Paus sering kali mengingatkan pentingnya membangun jembatan dan stop membangun tembok. Pesan ini sampai saat ini masif dikenang umat katholok,” ujar Gabriel Asem di kediamanya, Jumat (25/4/2025).
Kata Geby sapaan akrab Gabriel Asem. Membangun tembok mencerminkan sikap eksklusif dan defensif, yang hanya akan memperburuk ketegangan dan menciptakan jurang yang semakin dalam di antara umat manusia.
Sebaliknya, membangun jembatan melibatkan upaya untuk mendekatkan diri, mengatasi perbedaan, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.
“Jembatan yang dimaksud dalam pengertian ini, adalah simbol keterbukaan, kerendahan hati, dan komitmen untuk hidup berdampingan dalam damai. Sedangkan tembok mencerminkan sikap eksklusif dan defensif, yang hanya akan memperburuk ketegangan dan menciptakan jurang yang semakin dalam di antara umat manusia,” jelasnya.
Pesan Sri Paus Fransiskus ini, kata Geby, saatnya para pimpinan agama dan pimpinan daerah di Papua Barat Daya untuk membangun “jembatan” bukan membangun “tembok”. Hal ini semata-mata untuk menyatukan perbadaan.
Dikatakannya, saat kunjungannya di Indonesia, Paus Fransiskus menunjukan kesederhanaannya saat dijemput menggunakan mobil Inova. Ia juga satu-satunya pemimpin agama lain di dunia yang memberikan cerama di masjid Istiqlal Jakarta.
“Saat kunjungannya di Indonesia, Paus tidak mau naik mobil mewah, beliau naik mobil Inova. Dan satu-satunya pemimpin gereja dari Kristen yang memberikan cerama di masjid Istiqlal Jakarta. Paus memang sangat dekat dengan masyarakat dari berbagai kalangan,” tandasnya.
Oleh sebab itu Gabriel Asem kembali menekankan supaya jangan lagi ada tembok pemisah bagi seluruh umat di dunia terlebih kusus di Indonesia, saatnya jembatan menuju kedamaaian sudah harus dibangun.















Hari ini : 357
Kemarin : 1317
Total Kunjungan : 237139
Hits Hari ini : 660
Who's Online : 11