Pelatihan Kerajinan Berbasis Ekonomi Kreatif Dorong Pemberdayaan Mama-Mama Papua di Papua Barat Daya

ISTORI NEWS : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Papua Barat Daya mengapresiasi terlaksananya pelatihan keterampilan kerajinan tangan berbasis ekonomi kreatif bagi mama-mama Papua.

ISTORINEWS.COM, Papua Barat Daya – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Papua Barat Daya mengapresiasi terlaksananya pelatihan keterampilan kerajinan tangan berbasis ekonomi kreatif bagi mama-mama Papua yang berlangsung selama lima hari di Hotel Marit Sorong sejak 24-28 November 2025. Kegiatan itu resmi ditutup pada Jumat, (28/11/2025).

Kepala Dinas Sosial PPPA Papua Barat Daya, Dr. Anace Nauw, mengatakan pelatihan tersebut memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kemampuan peserta untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan peluang usaha.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari visi Gubernur tentang peningkatan ekonomi kreatif berbasis lokal. Bapak Gubernur mendukung penuh program ini agar ke depan semakin diperkuat,” ujarnya.

Anace menegaskan bahwa Pemerintah Daerah akan meningkatkan pola pelaksanaan program agar tidak berhenti pada tahapan pelatihan saja, namun dilanjutkan dengan dukungan modal usaha serta pemasaran.

“Tahun depan konsepnya berubah. Setelah pelatihan harus ada tindak lanjut berupa bantuan bahan atau modal usaha. Kami juga akan bangun kerja sama pemasaran, termasuk ruang pamer di bandara dan hotel-hotel agar produk mama-mama Papua dapat bersaing,” jelasnya.

Untuk memperkuat produksi berkelanjutan, pihaknya merencanakan pembentukan kelompok usaha atau sanggar sehingga alat produksi dapat dimanfaatkan secara kolektif.

“Mesin produksi tidak bisa diberikan perorangan, tetapi kelompok. Jika dari pelatihan ini ada 20 peserta, kita bentuk empat kelompok agar proses produksi massal berjalan,” tambahnya.

Anace berharap langkah ini menjadi lompatan besar bagi pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui kerajinan benang dan sulam.

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin, Marius Solossa, menjelaskan bahwa pendampingan teknis akan dilakukan oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) di setiap distrik.

“Setelah pelatihan selesai, kami tidak akan melepas begitu saja, tetapi tetap melakukan pendampingan. TKSK akan memonitor perkembangan usaha kerajinan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Dinas Sosial akan mengusulkan pengadaan alat dan mesin penunjang pada 2026 agar peserta pelatihan dapat memproduksi secara lebih profesional dan berkelanjutan.

Selain pendampingan produksi, pemerintah juga akan mendukung pemasaran dengan melibatkan sejumlah mitra, termasuk hotel di Sorong serta memanfaatkan momentum kedatangan wisatawan dan kapal pesiar.

“Kami akan bekerja sama dengan mitra pemasaran. Dengan adanya potensi wisata dunia seperti Raja Ampat, peluang souvenir budaya sangat besar,” katanya.

Pelatihan yang diikuti 20 peserta dari Kabupaten Sorong Selatan dan Maybrat ini menghasilkan empat jenis produk kerajinan berbahan lokal Papua, yaitu:

* Poch pandan (noken tangan)
* Kotak tisu berbahan pandan
* Puring noken sebagai pelapis bagian dalam noken tradisional
* Pengalas piring

Instruktur pelatihan, Yanti Siwabessy/Akihari, menyampaikan bahwa bahan lokal seperti pandan asli dan aksesoris khas Papua digunakan untuk memberikan karakter kuat pada produk.

“Kami membeli noken dari peserta untuk dikembangkan menjadi produk bernilai lebih tinggi. Mereka sangat senang karena hasilnya lebih siap dipasarkan,” jelas Yanti.

Walaupun terdapat tantangan perbedaan kemampuan peserta, pelatihan tetap berjalan optimal berkat kerja sama tim.

Yanti berharap produk-produk tersebut dapat dikembangkan sebagai usaha mandiri sehingga meningkatkan ekonomi keluarga dan menjadi identitas kreatif Papua Barat Daya.

Pos terkait