Hari Pertama Pendaftaran SPMB di SMA Negeri 3 Kota Sorong Diserbu Lebih dari 500 Calon Siswa

ISTORI NEWS : Hari Pertama Pendaftaran SPMB di SMA Negeri 3 Kota Sorong Diserbu Lebih dari 500 Calon Siswa.

ISTORINEWS.COM, Kota Sorong– Animo masyarakat dalam mengikuti proses penerimaan peserta didik baru di SMA Negeri 3 Kota Sorong sangat tinggi. Hal ini terlihat dari membludaknya pendaftar pada hari pertama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang digelar secara online, Senin (16/6/2025).

Sekretaris Panitia SPMB SMA Negeri 3 Kota Sorong, Sukoco, menjelaskan bahwa proses pendaftaran tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri dan Peraturan Wali Kota Sorong. Pendaftaran dibuka melalui empat jalur, yakni Jalur Domisili, Afirmasi, Prestasi, dan Mutasi.

Bacaan Lainnya

“Setiap jalur memiliki kuota yang telah ditentukan sesuai regulasi,” ujar Sukoco.

Rincian kuota masing-masing jalur adalah sebagai berikut:

Jalur Domisili: 30% (120 siswa), terdiri dari 70 siswa Orang Asli Papua (OAP) dan 48 siswa non-OAP.

Jalur Prestasi: 35% (140 siswa), dengan rincian 98 siswa dari prestasi akademik dan 42 siswa dari prestasi non-akademik.

Jalur Afirmasi: 30% (120 siswa), ditujukan bagi pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP), peserta Program Keluarga Harapan (PKH), serta penyandang disabilitas.

Jalur Mutasi: 5% (20 siswa), diperuntukkan bagi calon siswa yang memiliki SK mutasi atau surat pindah domisili.

Sekretaris SPMB SMA Negeri 3 Sorong, Sukoco.

Sukoco mengungkapkan, antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 500 orang pada hari pertama.

“Jumlah pelamar sudah tembus 500 lebih hanya di hari pertama, dan diperkirakan akan terus bertambah hingga hari terakhir pendaftaran,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan edaran resmi, jumlah siswa yang akan diterima tahun ini adalah sebanyak 400 orang. Proses seleksi pun akan dilakukan secara terpisah sesuai jalur pendaftaran, termasuk pengelompokan antara OAP dan non-OAP, serta berdasarkan gender.

“Dari awal kami sudah pisahkan data pendaftar antara OAP dan non-OAP, juga dibedakan antara laki-laki dan perempuan, untuk menjaga keadilan dalam proses seleksi,” pungkas Sukoco yang juga merupakan guru senior di sekolah tersebut.

Pos terkait