ISTORINEWS.COM, Kota Sorong – Pembangunan gedung dan infrastruktur di Papua Barat Daya diharapkan tidak hanya mengutamakan fungsi dan keindahan bangunan, tetapi juga mencerminkan identitas budaya serta kearifan lokal masyarakat setempat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, arsitek, dan tokoh adat dari berbagai suku dalam merumuskan konsep arsitektur khas Papua Barat Daya.
Gagasan tersebut disampaikan Septinus Lobat saat menghadiri Pekan Raya Arsitek Papua Barat Daya 2026 yang berlangsung di Main Atrium Mal Sorong Modern City, Jumat (30/10/2026).
Wali Kota menegaskan, diperlukan pertemuan bersama tokoh-tokoh adat dari berbagai suku di Papua Barat Daya untuk membahas dan menyepakati konsep arsitektur yang dapat menjadi pedoman dalam pembangunan gedung maupun infrastruktur di masa mendatang.
Menurutnya, sinergi antara arsitek nasional dan daerah bersama pemerintah sangat penting untuk menghasilkan rancangan bangunan yang tidak hanya memperhatikan aspek fungsional dan estetika, tetapi juga mengakomodasi nilai budaya serta karakteristik lingkungan setempat.
Ia juga menilai, para arsitek di Papua Barat Daya memiliki potensi besar untuk menghasilkan karya berkualitas dan mampu bersaing dengan daerah lain.
Karena itu, Pekan Raya Arsitek diharapkan menjadi momentum untuk mendorong inovasi, kreativitas, sekaligus melahirkan gagasan baru dalam pengembangan arsitektur daerah.
Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Papua Barat Daya, Ar. Fendy Gunadi, menjelaskan bahwa Pekan Raya Arsitek merupakan wadah untuk memperkenalkan profesi arsitek kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menampilkan karya-karya arsitektur daerah, sekaligus membuka peluang diskusi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Mengusung tema “Arsitektur Papua Barat Daya: Merancang Masa Depan Berbasis Identitas, Ekologi dan Kearifan Lokal”, kegiatan ini menekankan pentingnya pembangunan arsitektur yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan pelestarian lingkungan, identitas budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Papua Barat Daya.
Fendy berharap, kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar, bertukar gagasan, membangun jejaring, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap karya arsitektur daerah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Sorong, seluruh anggota IAI Papua Barat Daya, pihak pengelola Mal Sorong Modern City, mitra, sponsor, komunitas, serta panitia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. (*)







